Manfaat daun bidara pada organ kewanitaan

Kesehatan, Wanita

Daun Bidara Memanjakan Wanita Agar Suami Bahagia!

Sobat, salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang nampaknya kini telah diabaikan oleh banyak orang ialah penggunaan daun bidara di saat wanita bersuci dari haidh atau nifas.

Padahal anjuran menggunakan daun bidara untuk mensucikan organ kewanitaan pada saat mandi bersuci dari haidh dan nifas memiliki manfaat yang sangat besar, tentunya tidak ketinggalan manfaat untuk suami tercinta.

Simak hadits berikut, agar anda mengetahui langsung anjuran nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut :

‘Aisyah mengisahkan: Suatu hari Asma’ binti Abi Bakar radhiallahu ‘anhum bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal tatacara mandi janabah seusai suci dari haidh. Beliau bersabda:
تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ. ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا ». فَقَالَتْ أَسْمَاءُ وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَ « سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِينَ بِهَا ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ كَأَنَّهَا تُخْفِى ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ. وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ « تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ – أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ – ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُئُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ ». فَقَالَتْ عَائِشَةُ نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِى الدِّينِ.

“Hendaknya engkau mengambil air dan daun bidara, kemudian dia bersuci dan menyempurnakan mandi bersucinya. Selanjutnya, engkau menyiramkan air dari atas kepalamu lalu menggosok-gosoknya dengan kuat sehingga air membasahi seluruh kulit kepalamu. Bila telah basah seluruh kulit kepalanya, maka hendaknya engkau menyiramkan air ke seluruh badanmu. Bila telah selesai, ambillah sepotong kain atau kapas yang telah dibubuhi minyak misik (wangi), kemudian dia bersuci dengannya. Asma’ kembali bertanya : “Bagaimana caranya aku bersuci dengan kain atau kapasnya?” Beliau bersabda: “Subhanallah, bersucilah dengannya”. Aisyah memahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa risih untuk menjelaskan lebih detail, maka ia segera memberikan penjelasan kepada saudarinya Asma’ “Engkau mengusapkan kain/kapas itu ke area yang terkena darah haidh.” HR Imam Muslim.

Selamat mencoba, insyaAllah suami tambah lengket kayak perangko.

Leave a Reply